11 November 2007

Panasonic Award: Dukung Najwa Shihab

Posted by: Ketty Darmadjaya
E-mail: ketty.darmadjaya@afs.org


Dear all.......


Jangan lupa untuk dukung NAJWA SHIHAB (Returni AFS-USA 1994-1995)
di acara Panasonic Award sebagai The Most Favourite News Presenter.

Caranya: ketik PA (spasi) F3 kirim ke 6288

Thanks,


Ketty Darmadjaya
Hosting Coordinator/ Pj. PR & Volunteer Development
Bina Antarbudaya
Jl. Limau No.22 Kebayoran Baru
Jakarta 12130 Indonesia
p. +62-21 7222291/7235832
f. +62-21 7267118
m. +62815 8842530
e. yba-info@centrin.net.id

www.bina-antarbudaya.net

10 November 2007

Nikita Dhavale

US tour turns sour for Pune student
31 Oct 2007, 0105 hrs IST,TNN
  Print  Save  EMail  Write to Editor
/photo.cms?msid=2503805
Nikita Dhavale, was abused and made to do house chores by a family in United States (TOI Photo)
PUNE: Nikita Dhavale's trip to the US was like a dream come to true. Typically, the 11 months student exchange programme should have opened the 16-year-old to a world of possibilities, educating her in the real sense of the word.

She was supposed to live with a family eager to have an exchange student and learn about the country, interacting with its people in real-life situations.

However, Nikita, who returned from the US on Saturday, is hardly excited about the experience. Ever since her return Nikita is a "changed kid altogether," said her mother Anita.

A few days into the programme, Nikita, who stayed with a family in Pipestone, Minnesota, realised that they did not get along among themselves and often fought. She was abused, made to do house chores and had to sometimes even sleep without food.

Though Nikita informed American Field Service (AFS), the non-profit organisation which organised the exchange program, she was ignored. AFS program co-ordinator Sakshi Garg dismissed Nikita's complains saying she was "exaggerating".

Before leaving for the US, AFS had informed Nikita, an ex-student of Dr Kalmadi Shamrao High School, that she would be staying with Debra, Russ and Jenna Raff. However, when Nikita got there she realised that the family had another member Ryan Messen, Debra Raaf's son. A few days into her stay with the Raffs, Nikita realised Ryan did not like foreign exchange students in his house.

Trouble started when she returned home with a fractured hand after a visit to Minneapolis. She was taken to the doctor who put her hand in a cast. "The nightmare began after this incident," said Nikita. She was asked to work for hours together with a broken hand.

"I did not have the guts to change the family even when I was nothing but a domestic help in the Raaf family," she told TOI.
  Print  Save  EMail  Write to Editor
Comments to the Editor
 
Be the first to write to the Editor.
 


 

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

AFS





The AFS (American Field Service) was there, with all the foreign exchange students, and some flags from different countries.

AFS, the most experienced high school exchange organization in the world

Bakat

Jika seseorang mempunyai bakat dan tidak menggunakannya, dia telah gagal.

Jika dia mempunyai bakat dan menggunakan hanya setengahnya, dia secara perlahan akan gagal.

Jika ia mempunyai kemampuan dan belajar untuk menggunakan seluruhnya, dia benar-benar akan sukses.

27 August 2007

Pemahaman budaya bisa ciptakan perdamaian

Jakarta, Kompas - Islam dan Barat saat ini seperti dua kutub yang berseberangan. Dalam situasi demikian diperlukan kesadaran dan usaha dari kedua budaya ini untuk mau saling berinteraksi dan memahami perbedaan yang ada sehingga kesalahpahaman dan stereotip antarkeduanya bisa dihilangkan.

Hal itu dikemukakan oleh Jacqueline Wasilewski, ahli kajian antarbudaya dari The International Society for Intercultural Education, Training, and Research dalam seminar "Islam and the West:
From Coexistence to Engagement" di Jakarta, akhir pekan lalu. Seminar yang digelar oleh Bina Antarbudaya ini dimaksudkan untuk memperingati 50 tahun Program Pertukaran Pelajar American Field Service (AFS) di Indonesia.

Program pertukaran pelajar seperti AFS, menurut Wasilewski, merupakan suatu wahana pembelajaran antarbudaya yang efektif. Peserta program harus belajar untuk bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang memiliki nilai, cara hidup, dan cara pikir yang sangat jauh berbeda dengan lingkungan asal.

Ribuan peserta AFS dari berbagai negara Barat tinggal di keluarga Muslim, juga sebaliknya. "Tinggal bersama keluarga asing dengan budaya yang berbeda, mereka tidaklah belajar sebagai "penonton", tetapi sebagai "pemain" yang turut mengalami dan menghayati kehidupan budaya
lain yang sangat berbeda sehingga dapat lebih merasakan dan memahami secara mendasar dan mendalam," kata Wasilewski.

Para alumni AFS yang telah dibekali dengan pemahaman antarbudaya itu kini tersebar di berbagai penjuru dunia. AFS asal Indonesia di antaranya penyair Taufiq Ismail, Tanri Abeng, dan pendidik Arief Rachman. (LOK)

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0708/27/humaniora/3793827.htm

02 June 2007

Travel For Peace: Sebuah gagasan

From: Aam Bastaman
E-mail: aam_bastaman@yahoo.com

Dear all,

Saya memiliki hobby "travelling", dan misi saya untuk AFS turut membantu terciptanya saling pengertian antar bangsa. Kalau digabung hobby dan misi saya kira-kira jadi: travel for peace!

Saya yakin banyak returnee AFS di seluruh dunia memiliki kegemaran "travelling" dan memiliki rasa ingin tahu dan mengenal mengenai budaya lain lebih banyak lagi. Sayangnya "travel" sangat mahal, bagi saya perlu waktu lama untuk menabung.

Gagasan saya, bagaimana kalau seluruh returnee AFS di seluruh dunia (yang berminat, tentu saja) membuka diri untuk menerima tamu-tamu returnee dari seluruh dunia untuk beberapa hari, misalnya maksimum 1 minggu. Dengan gagasan ini lalu lintas perjalanan returnee AFS dari seluruh dunia akan menjadi hidup, selain untuk perjalan pribadi sebagai hobby, sekaligus membina saling pengertian antar bangsa.

Jika seorang returnee dari Indonesia atau dari negara mana saja ingin ke Argentina, Alaska, Swedia, atau Afrika Selatan misalnya, maka ia tidak akan kesulitan akomodasi, karena dapat memungkinkan tinggal di rumah returnee AFS di negara atau kota-kota tersebut. Sebaliknya, returnee tersebut sewaktu-waktu harus siap menerima returnee lain, apakah dari Jepang, Bolivia (tempatnya Johan), Selandia Baru, Belgia, dll. Tentu saja harus sesuai dengan ketersediaan waktu dan jadwal tuan rumah juga.

Tentu saja ide ini perlu banyak tindakan (action), misalnya, siapa yang akan mengelola lalulintas komunikasi, koordinasi, jadwal, dan tentu saja aturan dan etikanya perlu dibuat sejelas mungkin. Apa mungkin ide ini "dilemparkan" ke AFS intercultural di NY?

Nah, saya hanya melempar gagasan. Ada komentar, tanggapan, dan saran? Terima kasih.

Rgds,

Aam Bastaman - MNP South Australia 1983-1984